[Ikhtisar]

Orasi Literasi Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan

pada Acara Pembukaan IIBF 2019, Rabu 4 September 2019

Acara Indonesia International Book Fair (IIBF) sudah diadakan selama 39 tahun. Sudah cukup lama, tapi bagi usaha untuk memajukan literasi, jalannya masih panjang lagi. Beruntunglah, IKAPI konsisten menjaga ini. InsyaaAllah beberapa tahun kemudian, konsistensi ini akan berbuah pada kecintaan masyarakat akan literasi.

Tidak banyak bangsa di dunia dalam 70 tahun dapat mengubah masyarakat yang awalnya tidak bisa membaca menjadi melek huruf. Usaha ini sudah dimulai sejak Soekarno. Pemerintah menuliskan “Bantulah pemberantasan buta huruf”. Apa yang terjadi setelah hal ini menjadi gerakan? Masalah itu dibagi, sehingga kepemilikan suatu masalah menjadi milik bersama bukan hanya milik pemerintah.

Kita harus dorong kembali agar permasalahan literasi tak hanya menjadi masalah pemerintah melainkan masalah masyarakat; masalah kita bersama. Literasi harus digaungkan untuk menjadi masalah kita, bukan masalah yang dikelola pemerintah Indonesia. Promosi atas masalah literasi ini harus masif, tidak dapat dilakukan hanya oleh bidang perbukuan namun harus dilakukan oleh semua komponen masyarakat.

Kita harus menyadarkan masyarakat mengapa literasi itu penting. Literasi membaca itu betul-betul pembuka kesempatan untuk dapat melakukan banyak hal. Pada tahun 2016, ketika saya masih menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan, terdapat kebijakan memberlakukan kewajiban bagi siswa untuk membaca 15 menit sebelum memulai kegiatan belajar mengajar di sekolah. Apa yang dibaca? Apa saja. Hal ini ditujukan agar membaca menjadi kebiasaan dengan cara diperkenalkan, didisiplinkan, dibiasakan, dan kemudian menjadi kebudayaan.

Kita harus menjadikan program literasi nasional menjadi program literasi lokal karena dinas pendidikan berada di bawah pemerintah daerah, bukan kementerian pendidikan. Alhamdulillah Pemprov DKI Jakarta mendirikan pasar buku pertama di Kramat.

Ruang ketiga adalah ruangan di antara rumah dan tempat kerja, seperti fasilitas-fasilitas umum yang disediakan pemerintah. Ruang ketiga akan didorong untuk menjadi sarana promosi gerakan literasi.

Saya yakin, masyarakat Indonesia memiliki minat baca, namun yang belum ada ialah daya baca. Minat baca dan daya baca adalah dua hal yang berbeda. Target yg harus kita dorong bukan minat baca, namun daya baca; kemampuan masyarakat untuk membaca.

Kita harus berterima kasih kepada penulis yang dapat membuat orang-orang membaca buku penulis tersebut, karena ia telah membantu meningkatkan daya baca masyarakat.

Kegiatan literasi sudah cukup banyak, namun sayangnya masih berjalan sendiri-sendiri, bisa jadi tidak ada keterlibatan pemerintah di dalamnya.

Untuk saat ini, DKI Jakarta juga sedang mendorong seni teater di kampung-kampung dengan mengundang maestro-maestro teater untuk tampil.

ikhtisar dibuat oleh Erizka, IIBF

Previous Next
Close
Test Caption
Test Description goes like this